Logo Perak Peduli Rakyat

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2017

Hosting Unlimited Indonesia

SEMINAR PKI
JAKARTA, (PERAK).- Menjelang peringatan G30S-PKI, di bulan September, hampir setiap tahunnya, selalu ada semacam ritual oleh kelompok pendukung komunis di tanah air. Disebut-sebut ritual yang dilakukan para simpatisan dari sisa-sisa komunis tersebut biasanya dibungkus dengan berbagai acara seperti seminar, teatrikal, orasi budaya dengan mendatangkan beberapa keluarga PKI mengatasnamakan HAM. Demikian hal tersebut disampaikan oleh salah seorang aktivis beretnis Tionghoa, Zeng Wei Jian.

Seperti terjadi Sabtu 16 September 2017, sebuah seminar pendukung komunis di Indonesia berhasil digagalkan dan dibubarkan oleh pihak kepolisian. Ini menyusul aksi massa dari berbagai elemen melakukan demonstrasi menolak dan menentang kegiatan seminar PKI yang berlangsung 16-17 September 2017.

“Kami akan di sini sampai seminar dibubarkan,” kata kooordinator aksi, Soyfan di lokasi, Sabtu (16/9/2017). Massa gabungan dari beberapa elemen ini melakukan orasi di seberang Gedung LBH.

Dalam seminar yang digelar di Gedung LBH Jl P. Diponegoro, Jakarta Pusat ini mengangkat tema ‘Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/66.’ Koordinator Acara Seminar, Bonnie Setiawan telah mencoba melakukan negosiasi agar acara tetap berlangsung namun pihak kepolisian memutuskan dibubarkan.

Kepolisian mengganggap seminar ini menyalahi aturan. Ini dikarenakan sejak kegagalan kudeta PKI tahun 1965, hal-hal yang berkaitan dengan partai komunis dilarang keras di Indonesia, termasuk seminar dan simposium mendukung PKI.

Lebih jauh Zeng Wei Jian menjelaskan bahwa dalam ritual tahunan para pendukung PKI mereka membungkusnya dengan berbagai seminar. Adapun isi kegiatan mereka adalah menyudutkan Soeharto dan menggiring opini publik mengenai kudeta yang dilakukan PKI tahun 1948 dan 1965.

“Mereka bilang PKI ngga salah. Pak Harto dalang G30S. Serem. Mereka bikin stigma: Sejarah dibikin Jenderal yang menang. Narasi baru hendak diciptakan. Sejarah versi mereka. Pak Harto dan TNI divonis salah,” ungkap Zeng Wei.

Pemerhati masalah militer, Eko Ismadi meyatakan bahwa agenda seminar yang diadakan di Gedung LBH Jakarta ini kata dia, para pro komunis ini ingin mengungkapkan kebenaran versi pembela PKI atas sejarah pengkhianatan PKI pada 1965 dan di tahun-tahun sebelumnya.

“Mereka telah menuduh ada pemalsuan dan manipulasi sejarah versi Orde Baru atas peristiwa 1965. Mereka ingin, sejarawan dan akademisi, aktivis sosial, serta korban/penyintas 65, mau mengikuti versi sejarah yang mereka seminarkan, bahwa PKI tidak bersalah. Mereka beralasan perlu adanya resolusi bagi pengungkapan kebenaran sejarah atas peristiwa1965,” ujar Eko.

Sebagaimana diketahui, beberapa tahun terakhir ini tuntutan pencabutan TAP MPRS No XXV Tahun 1966 tentang pembubaran dan pelarangan PKI terus semakin kencang. Bahkan dalam sejarahnya desakan dan tekanan terhadap pemerintah untuk meminta maaf kepada keluarga PKI terus meningkat. Sejak era Presiden Gus Dur, Megawati, SBY hingga Jokowi desakan agar pemerintah minta maaf kepada PKI kian menguat.

Bahkan presiden Jokowi pada 25 April 2017 lalu memerintahkan untuk membantu untuk melakukan pencarian dan penggalian kuburan massal anggota PKI. Ironisnya pemerintah justru abai pada korban pembantaian yang dilakukan PKI. Namun, kebijakan itu mendapat tentangan keras dari publik tanah air, khususnya umat muslim yang menjadi korban kekejian PKI kala masih berjaya.

Semetara itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku tak ambil pusing atas polemik terkait instruksi agar seluruh prajuritnya menonton film G30S/PKI. Gatot menegaskan telah mendapat izin dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo untuk pemutaran film tersebut.

Ia menegaskan tak akan menarik perintah memutar film G30S/PKI tersebut di seluruh jajaran TNI Angkatan Darat. Hal tersebut diungkapkan Gatot saat ditemui seusai memimpin upacara militer di makam Bung Karno di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar siang tadi, Senin 18 September 2017.

Gatot pun menegaskan dirinya tak ambil pusing atas kritik yang muncul dari berbagai kelompok atas keakuratan materi film G30S/PKI ini. Menurut dia film G30S sudah benar dan wajib ditonton oleh generasi muda agar bisa memahami sejarah.

Bahkan, kata Gatot, anaknya sendiri juga tidak memahami sejarah komunis di Indonesia tanpa melihat film tersebut. Hal itulah yang melatarbelakangi instruksi pemutaran film G30S/PKI untuk meluruskan sejarah, sesuai dengan pesan Bung Karno agar tak melupakan sejarah.

Menurut Gatot, pihak lain boleh berpendapat atas instruksi pemutaran film G30S/PKI tersebut. Namun mereka tak bisa menggagalkan atau menghentikan rencana itu, selain pemerintah.
Kedatangan Panglima TNI di makam Bung Karno didampingi para petinggi TNI seperti KASAD, KASAU, dan KASAL. Selain perwira TNI, Gubernur Jawa Timur Soekarwo juga turut mendampingi Gatot berziarah.

(Red/Net)

Add comment


Security code
Refresh

KESEHATAN

Gebyar Peduli Donor Darah VII Milad FMP, Media Perak dan…

Gebyar Peduli Donor Darah VII Milad FMP Media Perak Dan Forajal Sumbang 116 Labu Darah

PANTURA-SUBANG, (PERAKNEW).- Kamis 12 Oktober 2017 dalam rangka menyambut Milad Forum...

Tim Posko FMP Pantura II Kembali Dampingi Pasien di RSHS…

Tim Posko FMP Pantura II Kembali Dampingi Pasien Di RSHS Bandung

SUBANG, (PERAKNEW).- Pendampingan Pasien Tim Evakuasi Pasien Gakin (TEPG) kali...

Ape Penderita Tumor Berhasil Dioperasi

Ape Pasien Keluarga Miskin Subang

  SUBANG, (PERAK).-  Dengan difasilitasi Unit Siaga Gratis Forum Masyarakat Peduli...

Nasib Malang Mohamad Yusup

Berita Subang

SUBANG, (PERAKNEW).- Nasib Malang Mohamad Yusup. Warga Desa Bongas Rt...

Dendi Ternyata Bukan Penderita Tumor Ganas

Pasien Keluarga Miskin Subang

BANDUNG, (PERAKNEW ).- Masih ingat dengan Dendi Setiawan (18)? seorang...

Pasien Gakin Subang Tidur Di Jalanan, Mana Janjimu?

Pasien Gakin Subang Tidur Di Jalanan Mana Janjimu

  SUBANG, (PERAKNEW).- Sampai kapan pasien tidur di jalanan? jika masa tunggu...